6 Imbauan KPAI, Cegah Aksi Demo Pelajar yang Rentan Ricuh
6 Imbauan KPAI, Cegah Aksi Demo Pelajar yang Rentan Ricuh

6 Imbauan KPAI, Cegah Aksi Demo Pelajar yang Rentan Ricuh – Beberapa pelajar SMA/SMK waktu lalu sudah sempat turun ke jalan turut tindakan demontrasi. Tetapi, buntut dari tindakan itu, membuat mereka terancam dikeluarkan dari sekolah, walau sang murid cuma ikutan tindakan sebab ajakan di sosial media.

Sebab ini, Jumat, 27 September 2019, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terima pengaduan dari satu diantara pengacara public YLBHI (Yayasan Instansi Pertolongan Hukum Indonesia) berkaitan beberapa anak SMA/SMK yang turut dalam tindakan demonstrasi pelajar serta teracam dikeluarkan dari sekolah.

Dari beberapa ratus anak yang ikuti tindakan demonstrasi itu, sejumlah besar datang dari Jabodetabek. Dari ke-3 Propinsi itu, baru Kepala Dinas Pendidikan propinsi DKI Jakarta yang telah mengatakan dengan tegas tidak memberi sangsi siswa peserta tindakan demonstrasi dengan keluarkan dari sekolah, atas nama kebutuhan paling baik buat anak.

Dalam tempo dekat, akan direncanakan oleh bagian kesiswaan Disdik Prov.DKI Jakarta untuk mengundang beberapa siswa itu dan orangtuanya untuk menyamai persepsi skema pengawasan serta pengasuhan beberapa anak itu nanti hingga tidak gampang terhasut ikuti ajakan-ajakan faksi mana saja, baik di dunia riil atau di dunia maya, yang punya potensi membahayakan keselamatan anak.

Terkait dengan pemenuhan hak atas pendidikan buat beberapa anak itu, KPAI akan bekerjasama dengan Kemdikbud RI serta Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat serta Banten. KPAI akan pastikan, beberapa anak itu masih ditanggung keberlanjutan hak atas pendidikannya. Anak ialah manusia yang belum dewasa, oleh karenanya saat anak lakukan kekeliruan, karena itu harus dikasih peluang melakukan perbaikan diri sebab waktu depannya masih panjang.

Lewat aplikasi WhatsApp, KPAI terima ajakan hadiri “Aksi Mujahid 212, Selamatan NKRI”, yang akan berjalan pada Sabtu 28 September 2019 jam 08.00 WIB dengan titik kumpul Bundaharan HI serta bergerak ke arah Istana. Tindakan ini ajak beberapa pelajar SMA/Sederajat (di selebaran tercatat SMU, walau sebenarnya arti ini tidak dipakai).

Pemakaian narasi-narasi jihad untuk ajak anak lakukan demo di jalanan adalah hal yang kurang pas serta butuh diluruskan. Ditambah lagi umur mereka adalah umur tumbuh kembang yang butuh dilindungi dari semua bentuk kekuatan negatif, terhitung kerentanan jadi korban dari beberapa hal yang tidak terprediksi waktu aksi demo berjalan.

Belajar dari tindakan pelajar yang selesai gaduh pada Kamis 26 September 2019 lalu, Komisioner KPAI bagian pendidikan Retno Listyarti menyarankan seperti berikut:

Pertama, untuk beberapa orang-tua, KPAI menggerakkan beberapa orang-tua lakukan pengawasan serta pendampingan pada anak-anaknya yang telah umur remaja agar berhati-hati ikuti ajakan tindakan demonstrasi lewat medai sosial sebab tidak jelas siapa penanggungjawabnya.

“Beberapa orang-tua harus buka ruangan dialog dengan anak-anaknya. Beberapa orang-tua harus juga memonitor sosial media anak-anaknya jadi bentuk mencegah, sebab undangan tindakan di masa ini disebarkan lewat sosial media IG serta aplikasi WhatsApp,” catat Retno melalui launching yang diterima.

Ke-2, KPAI menggerakkan kepala-kepala sekolah untuk buka ruangan dialog dengan beberapa siswanya, seperti mengedukasi bahaya mereka turut tindakan demonstrasi lewat sosial media yang tidak jelas penanggungjawabnya, dan tidak jelas persiapannya bila hadapi kondisi kalut.

Walau beberapa anak SMA/SMK/MA telah berumur 17 tahun (masih umur anak, sebab umur anak 0-18 tahun menurut UU Perlindungan Anak) Retno memandang, bila mereka ada dalam kerumuman yang punya potensi gaduh, pasti benar-benar membahayakan. Oleh karenanya, sekolah lewat beberapa guru harus mengedukasi beberapa anak supaya sadar pada bahaya serta risiko yang akan berlangsung saat ikuti tindakan demonstrasi.

“Ke-3, KPAI ajak semua tokoh warga, tokoh agama serta semua komponen warga supaya lakukan beberapa usaha menahan anak supaya tidak terhasut narasi-narasi jihad dalam ajakan Aksi Demo seperti tersebar di sosmed serta menahan supaya anak tidak turut demostrasi.”

Ke empat, KPAI menggerakkan beberapa Kepala Dinas Pendidikan semua Indonesia untuk menghadapi serta menahan beberapa anak di gunakan dalam demonstrasi serta usaha membuat perlindungan beberapa anak dari bahaya, karena itu beberapa Kadisdik diinginkan keluarkan edaran pada beberapa kepala sekolah untuk lakukan beberapa langkah mencegah membuat perlindungan beberapa siswanya.

Ke lima, spesial Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DKI Jakarta, Propinsi Jawa Barat serta Propinsi Banten yang anak-anaknya adalah sisi dari massa tindakan 25 September 2019, KPAI menggerakkan ke-3 Kadisdik keluarkan edaran pada beberapa kepala sekolah yang anaknya jadi peserta tindakan untuk harus di penuhi hak atas pendidikannya.

“Jangan keluarkan siswa sebab jadi peserta tindakan demonstrasi, sebab beberapa anak itu sejumlah besar cuma ikutan,” papar Retno dalam imbauannya.

Ke enam, sebab ajakan tindakan demonstrasi terus-terusan tampil di sosial media dengan berlainan barisan serta kebutuhan hampir di semua wilayah di Indonesia, karena itu KPAI menggerakkan Mendikbud RI serta Menteri Agama RI untuk bikin sudart edaran pada semua kepala Dinas Pendidikan di Indonesia, baik Disdik Propinsi atau kabupaten/Kota supaya mengemukakan pada beberapa kepala sekolah serta beberapa guru untuk menghadapi keterkaitan beberapa siswanya dalam beberapa tindakan demonstrasi itu yang punya potensi membahayakan anak.

Link Alternatif : Situs Slot Terpercaya

Berita Dunia Olahraga : Agen Slot Terbaik
Artikel Judi : Agen Slot Terpercaya
Link Daftar : Agen Judi Slot Terbaik
WA : +6281358840484

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here